Alangkah Sia-Sianya Amalan Facebook Kita – Mari Selektif Memakai Social Media

Alangkah Sia-Sianya Amalan Facebook Kita

Masuk ke dalam media sosial bernama facebook seperti masuk ke dalam parlemen demokrasi. What’s on your mind? Apa yang sedang kau pikirkan? Mari, tetaskan disini!

Ketika Rasa Malu Berekspresi Diuji

Teringat dengan tanda-tanda akhir zaman yakni banyaknya tulisan, tersebarnya kebodohan dan kemaksiatan juga masalah diserahkan tidak kepada ahlinya. Mungkin facebook salah satu fenomenanya. Ketika ada suatu berita dinaikkan menjadi status, siapa saja. Beramai-ramai semua mengomentari, begini dan begitu, komentar baik, komentar buruk. Dan semua komentar bernilai sama. Sama-sama terakomodasi. Sama-sama boleh dan sah-sah saja.

Kotak komentar menghipnotis siapa saja untuk ringan dan mudah berkata-kata, dan sayangnya lebih sering tanpa pertimbangan atas efek dari apa yang dikatakan. Spontan. Jauh dari kesan mendalam, khusu’ dan beradab. Tentu saja mereka yang ahli enggan berada di sini. Mereka yang ahli tak bisa menangani, karena masalah sudah dilemparkan pada mereka yang bukan ahlinya.

Berisik sekali media sosial yang satu ini. Kita rasanya sudah sampai titik jenuh menerima informasi yang minim maslahat. Betapa sia-sia dan konyolnya mencurahkan isi hati ke hadapan banyak orang. Apalagi jika itu menyangkut keretakan muamalah kita dengan saudara kita sendiri. Hanya menyisakan tanda tanya, fitnah, ghibah,  adu domba, dan perpecahan.

Dulu kita tidak seperti ini. Dulu kita diam ketika marah. Dulu kita hanya mengadukan permasalahan kita pada orang yang kita percaya dapat berbagi solusi. Tapi kini kita kehilangan arah ketika gusar. Kita memang duduk dari berdiri, tapi sambil mengetik status. Kita menjadi kekanak-kanakan, reaktif dan mentah. Sudah cukup perpecahan ukhuwah ini menyiksa batin kita.

Betapa konyolnya ketika seorang perempuan meletup-letupkan hasrat ingin menikah dalam media sosial ini. Mungkin karena saking ringannya curhat di jejaring sosial sampai lupa menimbang bahwa yang dilakukannya laksana ikan segar yang menarik naluri banyak kucing. Masya Allah. Betapa sedihnya ketika ribuan remaja kita menghiasi statusnya dengan kelabilan sehingga dengan mudahnya diperalat orang-orang jahat. Ngobrol ngalor-ngidul, diimingi pulsa, hingga diajak kencan dan dikerjai. Na’udzubillah min dzalik. Tapi, begini memang akhir zaman, tulisan tersebar, fitnah tersebar. Lapangkan dada kita untuk tidak sampai kehilangan daya mafhum. Beginilah adanya, dan dari sini kita memulai apa-apa yang masih bisa kita perbaiki dan selamatkan.

Belum lagi kehinaan yang dilontarkan oleh seorang lelaki, “Sekarang nyari cewe mah gampang, sambil di closet juga bisa, buka aja facebook…”. Miris rasanya. Tapi, ungkapannya memang tidak salah. Facebook menjadi tempat penggunanya meng-artiskan diri. Semua pengguna seolah dijadikan pusat perhatian, pusat kendali. Di sini kita berlomba-lomba berekspresi, dengan segala bentuk ekspresi. Ada profile picture, ada kotak status, ada kotak komentar, notes, galeri foto, dan lain-lain.

Ketika dulu seorang lelaki hendak melamar seorang perempuan ia mencari tahu profil perempuan tersebut melalui kerabat dan kawan-kawan terdekat, sekarang dengan facebook semakin dimudahkan. Buka saja akunnya, hampir semua kehidupannya dapat kita lihat. Biodata diri, gaya berkata-katanya, gaya bercandanya, gaya berkawannya, gambar-gambar dirinya terdisplay demikian lengkap dan rapi.

Bahkan, bukan hanya mereka yang sudah siap melamar, mereka yang masih berkata, “Lima tahun lagi ya Ukhtiy..” pun tergoda untuk senantiasa memantau akunnya. Entah bagaimana nasib hatinya setelah aktivitas memantau itu. Dan ini berlaku pula untuk perempuan. Ada akun-akun sumber fitnah yang menggoda untuk selalu dibuka. Padahal hanya iseng, hanya menuntaskan keingintahuan, tidak penting. Tapi banyak membawa petaka. Sudah banyak keluarga tercerai berai karena tak bijak bermedia sosial. Na’udzubillahi mindzalik. Wallahulmusta’an. Semoga Allah menjaga kebersihan hati kita.

Tak perlu menyalahkan lelaki yang sakit pikiran ketika mereka dengan asiknya mengoleksi foto-foto perempuan jika kita sendiri memang yang memajang. Facebook memang sudah menjadi salah satu pasar gratis, mudah dan murah, tempat mengunduh ribuan gambar-gambar perempuan. Mulai dari ekspresi menunduk malu-malu sampai yang tak mengindahi malu. Mulai dari yang hanya terlihat mata sampai yang sangat terbuka. Dan jangan salahkan siapa-siapa ketika ada mata-mata tak sehat yang menekuri foto-foto kita.

Disini pula tempat di mana kerudung, jubah bahkan cadar kadang tak ada atsarnya, tak berjejak. Memang aneh jika aktivitas wall-wall-an disebut majlis ikhtilat. Toh tidak bertemu secara fisik. Tapi ternyata efek mentalnya tak jauh berbeda, malah jauh lebih dahsyat. Facebook menciptakan atmosfer yang akrab, dekat, dan hangat. Bahasa tulisan memang membangkitkan daya imaginasi yang lebih hebat dibanding bahasa visual.

Ketika kita mendidik anak-anak perempuan kita menuju masa takflif, salah satu poin paling penting adalah perihal interaksi dengan lawan jenis. Kita harus menumbuhkan rasa malu yang kuat pada mereka terhadap lawan jenisnya. Malu kalau auratnya terbuka, malu kalau ekspresinya dapat menggoda, malu beramahtamah dengan laki-laki tanpa suatu keperluan.

Kita ejawantahkan dengan detail bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis itu. Kita katakan, hukum asal lelaki dan perempuan adalah terpisah, maka ketika bertinteraksi harus seperlunya saja, harus saling menjaga kemuliaan, harus menutup celah-celah setan, bersuara pun harus tegas, tak boleh berduaan, tak boleh campur baur dan seterusnya dan seterusnya.

Lantas, aktivitas facebook kita? Kita hadiahkan rentetan adab ijtima’i (pergaulan) pada  anak perempuan kita, kita jaga mereka. Tapi kita demikian mudahnya iseng colek-colek akun lawan jenis, meskipun kawan akrab kita. Dimana rasa malu kita. Kita dengan santainya bercanda, tertawa, bahkan terbahak-bahak,  memberikan icon menjulurkan lidah, mengerlingkan mata dalam forum campur baur. Meski dengan kawan akrab kita. Kita lupa dengan adab-adab pergaulan yang dulu sewaktu menjadi aktivis Islam di sekolah hal itu kita perjuangkan. Kita lupa apa makna seperlunya saja, kita lupa bahwa ada hijab yang tak boleh kita robek. Meski itu di dunia maya.

Teringat dengan ceramah seorang Syaikh tentang Masyarakat Ya’juj Ma’juj. Mungkin facebook ini miniatur Ya’juj Ma’juj Society, ketika semua bercampur baur tanpa ada hijab. Dajjal memang selalu menginginkan yang berkebalikan. Ketika Islam menghendaki kehidupan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan Dajjal menciptakan atmosfer kebalikannya. Wallahu’alam.

Ya terlepas dari itu, facebook dan sistemnya memang menjadi ujian bagi kita untuk menilai dan menimbang diri sendiri, layakkah diri kita untuk berekspresi seperti yang ingin kita kerjakan. Di sini kemampuan kita menimbang apa yang akan menjadi efek dari ekspresi kita menemukan kawah candradimukanya. Kebijaksanaan kita membagi informasi, menjaga langkah perbaikan, menjaga kehormatan diri dan keluarga, terutama menjaga kemuliaan dien Islam ini benar-benar diuji.

Lagi-lagi kita tertinggal dan terpedaya, konsentrasi dan tenaga kita dibekukan masih dalam tataran konten, padahal mereka sudah melangkah jauh dalam ranah sistem. Ya Allah, Anta maulana fanshurna ‘alal kaumil kafirin.

Sumber : http://muslimahzone.com/alangkah-sia-sianya-amalan-facebook-kita-bagian-3-3/

About Putra Eka

Blogger muda yang sedang mencari-cari dimana tumpukan uang berada. Mencari sang pendamping hidup (semoga dipercepat.. amin) kalo ada yang menemukannya tolong di beri tahu ya! Nanti saya kasi tempe deh.. :D

10 comments

    1. Ini artikel bagus dan saya lebih senang menyebarluaskannya dengan tulisan apa adanya (preferensi masing-masing orang lho – hak absolut)

      Tidak ada yang salah dengan mencopy paste selagi mencantumkan sumber asil (menukil).

      1. Aku setuju mas, menurut ku tidak ada salahnya kita melakukan istilahnya copy paste info dari sumber lain, selama info tersebut memiliki nilai positip/mengandung kebaikan didalamnya, tentunya dengan mencamtumkan sumbernya dan mas sudah melakukannya meliskan sumbernya, keep posting :)
        Dee´s last blog post ..HUJAN METEOR LYRID 2013

  1. Gak dipungkiri Facebook memang membawa manfaat, misal untuk berkomunikasi dengan saudara atau teman yang tidak bisa bertemu setiap hari, selain itu bisa juga dipakai untuk sarana dakwah, namun yaa itu tidak bisa dipungkiri juga masih banyak yang menggunakan facebook untuk hal-hal yang tidak semestinya, semisal mengumpat orang lain, menulis kata-kasar bahkan gak jarang yang berani berbagi gambar/video tidak senonoh, tapi semua itu tergantung penggunanya juga sih kalau menurut saya…
    Dee´s last blog post ..HUJAN METEOR LYRID 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco