Sebagai orang yang ber-KTP Jogja saya sering melihat ada banyak jasa ojek online yang kini lalu lalang di kota Jogja dan sekitarnya (Sleman dan Bantul). Ada beberapa ojek dan taksi online yang beroperasi sebut saja GO-JEK, dengan banyak turunannya seperti GOCAR, Go-Food, dll), Uber yang Uber Motornya sedangkan Grab baru ada GrabCar, ojol dari Grabbike belum masuk ke kota Gudeg ini.

Untuk saat ini Gojek masih memegang pangsa pasar ojek online di kota Jogja, hal karena mereka beroperasi mulai November 2015 lalu, jauh dibandingkan dengan Uber yang baru muncul diakhir tahun 2016 lalu.

Tapi tadi ko nanyain Grabbike? Pertanyaan ini khusus bagi yang udah ada di kotanya aja, apakah kamu senang pake GO-JEK atau Grabbike?

Gimana dengan GO-Car dibandingkan dengan GrabCar? Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana Grab sebagai start up yang dimiliki oleh negara tetangga kita Malaysia memiliki pengguna yang banyak serta pertumbuhan yang pesat.

Tentu kita membandingkan dengan saingannya yaitu GO-JEK yang merupakan startup dalam negeri dengan CEO Nadiem Makariem, sedangkan untuk Uber sendiri belum bisa dibahas banyak pada artikel kali, mungkin pada artikel mendatang akan kita bahas tentang penetrasi Uber di Indonesia.

Moda Transportasi Online Saat ini

moda transportasi online

Fenomena ojek dan taksi online yang mulai marak semenjak tahun 2015 lalu tentunya sedikit banyak menarik perhatian kita. Baik sebagai pengguna jasa maupun sebagai mitra dari perusahaan ojek online.

Kita sedikit banyak harus tahu siapa mereka yang berada di balik perusahaan-perusahaan ini.

Sejarah Singkat Pendiri Grab dan GO-JEK

ojek online

Grab adalah perusahaan startup yang didirikan oleh orang Malaysia bernama Anthony Tan seorang pria kaya lulusan Harvard Business School, awalnya jasa yang ditawarkan Grab adalah GrabTaxi baru muncul GrabCar lalu Grabbike.

Grabbike sendiri pertama kali muncul di Vietnam pada tahun 2014 lalu merambah ke Jakarta dan Bangkok.

Fokus Grabbike sendiri kini baru di kota-kota besar seperti Jabodetabek dengan membidik jumlah penduduk sekitar 38 juta orang.

Selanjutnya Go-JEK, dari namanya kita sudah bisa menebak ini adalah aplikasi buatan anak negeri. Ya, Gojek adalah start up  yang didirikan oleh Nadiem Makarim yang juga lulusan Harvard Business School beserta temannya Michaelangelo Maron.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 2011 ini kini memiliki  10 juta lebih user yang mendownload aplikasinya.

Layanan Go-JEK kini sudah merambah hampir disemua kota besar di Indonesia sebut saja Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Makassar, dll.

Antara Grabbike dan GO-JEK

Sejak awal kehadirannya kedua layanan transportasi online ini selalu bersaing head-to-head untuk mendapatkan pelanggan.

Mulai dari strategi perang harga, bonus, dan perbaikan layanan.

Grab Menargetkan Pertumbuhan diatas 300% di tahun 2017

Dilansir dari reuters – Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia mengatakan pada 2016 secara umum pertumbuhan meningkat 300%. Dia berharap 2017 bisa pertumbuhan bisnis Grab bisa melaju di atas 300%, antara 350% sampai 400%.

“Karena sejak awal tahun 2016 saja pertumbuhan kami sudah mencapai 250%, dan terus meningkat,” kata Ridzki kepada Bisnis, Selasa (17/1/2017)

Grab

Grab sebagai startup luar kini bisa dibilang mau menancapkan kukunya dalam-dalam di Indonesia.

Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Grab seperti dengan meluncurkan kampanye “Grab 4 Indonesia” dengan komitmen dana sebesar $US 700 juta.

Ada juga GrabChat yang memudahkan komunikasi antara penumpang dan pengemudi serta menjaga privasi keduanya, GrabPay yang bekerjasama dengan Mandiri e-cash dan juga GrabPayCredit yang bekerjasama dengan banyak bank lainnya, BCA, BRI, BNI, CIMB Niaga, Bank Permata dan pengguna ATM Prima.

Selain itu aplikasi O2O (Online to Offline) Kudo juga diakuisisi oleh Grab juga menghubungkan pedagang online dengan penyedia layanan. Kudo selanjutnya akan diintegrasikan kedalam GrabPay guna menjaring lebih banyak driver, pengguna Grab melalui aplikasi ini.

Kudo sendiri sebelum diakuisisi telah memiliki 500.000 agen resmi di 500 kota di seluruh Indonesia.

Apa Keuntungan Bagi Kita sebagai Pengguna Jasa?

Hal ini harus menjadi perhatian utama bagi kita sebagai pengguna jasa untuk bagaimana dengan cerdas memilih layanan apa yang akan digunakan.

Sebagai penikmat layanan sejatinya kita lebih memilih layanan yang memberikan harga terbaik, promo-promo dan kualitas layanan yang terus meningkat seiring waktu.

Grab dengan berbagai inovasi tentunya sangat membantu kita dari segi finansial, karena memberikan harga yang bersaing dengan kualitas yang semakin bagus. Tentunya ini tak luput dari investor yang berada dibelakang Grab.

Menilik saingan Grab yaitu GO-JEK, yang juga didukung oleh investor kenamaan tentunya terus meningkatkan layanan bagi pengguna jasanya. Ekspansi GO-JEK ke hampir seluruh kota di tanah air menandakan bahwa mereka berupa untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat selain tentunya untuk tujuan bisnis yang menguntungkan.

GO-JEK

Kita seharusnya bangga menggunakan dan mempromosikan layanan start up tanah air, karena dengan  dengan berkembangnya start up – start up baru di Indonesia berarti munculnya banyak pengusaha baru yang membuka lapangan kerja yang hasil akhirnya tentu untuk kemajuan kita bersama.

Mari kita berkaca dari China yang sangat mendukung bisnis start up dan rakyat China sendiri dengan senang hati menggunakan layanan itu untuk membantu pertumbuhan start up tersebut.

Lihat saja Alibaba dengan diversifikasi bisnisnya berkembang pesat di China dan saat berekspansi ke Indonesia salah satunya dengan mengakuisisi Lazada.

Jangan mau kalah dengan negara lain, ayo kita bantu start up – start up kepunyaan anak bangsa agar bisa terus berkarya.